BTC USD 84,550.6 Gold USD 4,285.46
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Bahayanya Tak Belajar Kemudian Beranalogi Dalam Berugama

Abu Maryam Janggood

Fun Poster
Messages
107
Joined
Nov 9, 2013
Messages
107
Reaction score
12
Points
15
Bismillah,

Firman ALLAH Tabaraka wa Taála,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلاَمُ
"Sesungguhnya agama(yang diridhai) di sisi ALLAH hanyalah Islam."
[Ali Ímran(3): 19]

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ
"Siapa saja yang mencari agama selain agama Islam,
maka sekali² tidaklah akan diterima agama itu."

[Ali Ímran(3): 85)]

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَ*بِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu, dengan benar dan ádil."
[Al-An'ám(6) : 115]

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ
"Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan."
[Yunus(10) : 32]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ
"Sungguh, telah aku tinggalkan kalian di atas(hujjah) yang putih(bersih),
malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada seseorang yang menyimpang darinya melainkan binasa."

[Shahih at-Targhib wa Tarhib no.59 dari shahabat Irbadh bin Sariyah radhiyallahuánhu]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
"Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku kecuali diwajibkan atasnya menerangkan seluruh kebaikan yang mereka ketahui kepada ummatnya, dan memberikan peringatan dari seluruh kejelekan
yang ia ketahui."

[HR Muslim, Kitab al-Imarah]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
"Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan ke syurga dan menjauhkan
dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian."

[HR ath-Thabarani dalam al-Kabir]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,:
إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا؛ كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
"Sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama²nya setelah keduanya: Kitab ALLAH dan sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di atas telaga(hari qiamat)."
[HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/172]

Juga sabda beliau shallallahuálaihi wa sallam,
مَا نَهَيتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
"Apa yang aku larang kalian maka tinggalkanlah dan apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah
sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya yang telah membinasakan orang² sebelum kalian adalah
banyaknya bertanya dan menyelisihi Nabi² mereka."

[HR Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337]

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,
"Kesimpulannya, barang siapa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahuálaihi wa sallam
di dalam hadits ini, meninggalkan apa yang dilarangnya, dan dia menyibukkan diri dengannya, maka akan terwujud
keselamatan di dunia dan akhirat."

[Jamí Úlum waal Hikam hlm. 127]

Sementelah masih lagi mengalir tenaga di tulang empat-kerat ini bersama modal masa, sebaiknya dipergunakanlah sebaik mungkin. Sementara masih hidup inilah diambilnya ikhtibar akan pelbagai ragam yang datang dan pergi dalam hidup kita. Terutamanya keikhlashan dan mengikuti sunnah dalam berámal-íbadah kepada-NYA. Jangan nanti kita menjadi seperti si faqir miskin yang jelik tadi. Apabila dikongsikan manfaát ílmu bahawa ini lebih tepat, ini lebih mengikuti sunnah dan itu telah melenceng dari tuntutan sepatutnya, tindak-balasnya ialah menolak kebenaran tersebut dan merendahkan manusia dengan kata², contohnya, Alahai, apa salahnya? Ini pun baik juga. Kemudian dibanding² hadits² Nabi dengan pendapat² ustadz rujukannya. Lebih daripada itu, apabila dibuatkan perbandingan dosa má'shiat dengan dosa menambah² dalam íbadah. Alangkah diam itu baik menjadi perisai buat menutup áib ke*****annya.

Konsep timbang-tara begini bukanlah sesuatu yang menghairankan lagi. Namun, cuba direnung sebentar di antara má'shiat dengan menambah² dalam íbadah tadi. Pelaku yang mana satu lebih cenderung untuk bertaubat daripada perbuatannya dan kenapa begitu? Sebagaimana yang má'lum dari kalam² ahlul atsar bahawasanya pelaku má'shiat lebih mudah untuk bertaubat kerana menyedari perbuatan tersebut adalah suatu dosa. Tidak pada pelaku ámal tambahan kerana,
Alahai, apa salahnya? Ini pun baik juga.
Betapa bahayanya hawa-nafsu yang mula berakar di dalam hati mengantarkan perkataan² jelek kepada lisan dan perbuatan yang keji. Wal íyadzubillah.

وَإِنَّ كَثِيرً*ا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِم بِغَيْرِ* عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَ*بَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ
"Dan sesungguhnya kebanyakkan(dari manusia) benar² hendak menyesatkan(orang lain)
dengan hawa-nafsu mereka tanpa pengetahuan."

[Al-An'ám(6) : 119]

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ*ضُ وَمَن فِيهِنَّ
"Dan kalaulah kebenaran itu tunduk menurut hawa-nafsu mereka,
niscaya rusak binasalah langit dan bumi serta segala yang adanya."

[Al-Mu'minun(23) : 71]

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ* هُدًى مِّنَ اللَّـهِ
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa-nafsunya dan
meninggalkan petunjuk dari ALLAH?"

[Al-Qashash(28) : 50]

فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّـهِ
Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah ALLAH(membiarkannya sesat)?"
[Al-Jatsiyah(45) : 23]

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ
"Dan janganlah engkau menuruti hawa nafsu, kerana yang
demikian itu akan menyesatkanmu dari jalan ALLAH."

[Shad(38) : 26]

Jadi apa kaitannya takabbur dengan menambah² dalam íbadah ini. Baik, kegemaran untuk bersangka baik kepada diri sendiri(ílmu dan ámalannya) adalah suatu yang membahayakan diri sendiri. Sangkanya ini betul, sangkanya itu salah. Sangka yang disandarkan pada "asalkan baik" tadi. Dan mulailah terjebaknya sang ábid(ahli íbadah tadi dengan sikap menolak kebenaran dan merendah²kan manusia. Dia terlupa firman ALLAH Tabaraka wa Taála,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ
"...Pada hari ini, AKU telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan AKU telah cukupkan
nikmatKu kepada kamu, dan AKU telah redhakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu."

[Al-Ma'idah(5) : 3]

Ummul Mukminin Á'isyah radhiyallahuánha pernah berkata:
وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًَا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَيْهِ الْفِرْيَةًَ، واللهُ يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه
"Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallahuálaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari apa² yang diturunkan ALLAH, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap ALLAH. Padahal ALLAH telah berfirman : "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan(apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya."
[Al-Maidah(5) : 67)
[HR. Al-Bukhari no. 7380 dan Muslim no. 177].

Dan mungkin beliau(ábid) tidak pernah mendengarkan kalam Imam Malik rahimahullah ini,
من ابتدع في الاسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمداً صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لان الله يقول { اليوم أكملت لكم دينكم ** ، فما لم يكون يومئذٍ ديناً فلا يكون اليوم ديناً

"Barangsiapa berbuat suatu bid'áh dalam Islam lalu menganggapnya sebagai suatu kebaikan, bererti ia telah menyangka bahawa Muhammad shallallahu álayhi wa sallam telah berkhianat terhadap (menyampaikan) risalah, ALLAH berfirman:
"Pada hari ini telah AKU sempurnakan untuk kamu agamamu", dengan demikian,
apa² yang saat itu bukan merupakan ugama, pada saat ini juga bukan ugama."

[Dikeluarkan oleh Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/217), dan Imam As-Suyuthi dalam al-Amru bil Ittiba'wan Nahyu 'anil Ibtida' (hlm. 70). Lihat Al-Í'tisham oleh Imam Asy-Syathibi, 1/49]

Barangkali setelah mengetahui serba-ringkas hal tersebut mudah-mudahan akan memadamkan api takabbur di dalam dadanya. Moga diluputkan juga sikap husnu zhan terhadap diri sendiri dalam memunculkan pelbagai pendapat² sendiri yang tidak ditegakkan melalui hujjah yang benar[8].

Áli bin Abi Thalib radhiyallahuánhu berkata:
لَو كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيتُ رَسولَ اللهِ n يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيهِ

“Seandainya agama dibangun di atas akal tentulah bagian bawah dari khuf(sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya."
[Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no. 162, dishahihkan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jamí'us Shahih mimma Laisa fish Shahihain]

Aduhai, fikirkanlah sejenak, Imam Asy-Syafi'í rahimahullah yang dijulang orang² kita sendiri bagaimana perkataannya pada hal tersebut?

Al-Imam Asy-Syafi’í rahimahullah pernah berkata:
مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
"Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu(menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syariát."
[al-Umm, kitabul Ibtholul Istihsan, Jam’ul-Jawaamí oleh Jalaluddin al-Mahalli & yang lainnya].

Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad al Syaukani asy-Syaukani menukil perkataan Imam Abi Al-Muhasin Ábdal Wahid Ibn Ismaíl Ar-Ruyani ketika menjelaskan perkataan Asy-Syafi'í di atas :

معناه أنه ينصب من جهة نفسه شرعًا غير الشرع
"Maknanya adalah orang yang menetapkan hukum syar'í atas dirinya dan tidak berdasarkan dalil² syar'í."
[Irsyaadul-Fuhuul].

Dalam Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi'í rahimahullah turut mengatakan :

إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ
"Sesungguhnya anggapan baik(al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu."
[Ar-Risalah dan Al-Umm]

Sang ábid seharusnya menyelidiki kembali individu rujukannya tersebut, daripada mana sumber beliau berisitdlal(dalil). Apakah benar qashad(tujuan) dan ámalnya dalam mencontohi sunnah Rasul? Baik pada sebab, jenis, kadar, kafiat, masa dan tempat yang telah ditunjuki dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan gula jika dikurangi boleh membuat tubuh menjadi lesu. Andai berlebihan boleh mendatangkan penyakit seperti diabetik pula. Sesuatu yang dilakukan dengan mengurangi atau melebihi daripada ketetapannya sering kali akan mendatangkan kesan yang kurang baik. Nah, semoga sudah jelas sedikit-sebanyak bahawasanya ugama kita tidak memerlukan lagi sebarang pengurangan ataupun penambahan. Cara paling selamat ialah dengan mencontohi setiap ajaran yang telah disampaikan. Mudah bukan? Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ
"Jauhilah ghuluw(melampaui batas), sesungguhnya orang² sebelum kalian tidaklah mereka
binasa kecuali karena ghuluw dalam agama."

[Shahih, diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad (1/215, 347), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/466), Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra (5/127), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 3029]

Dari Ummul Mu'minin, Á'isyah radhiyallahuánha bahawa Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang berámal tanpa didasari atas perintah kami, ámalan itu tertolak."
[HR.Muslim, no. 1718]

Ábdullah bin Mas'úd radhiyallahuánhu menyebutkan,
الِْاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
"Sederhana dalam(menunaikan) as-Sunnah lebih baik daripada bersungguh² dalam mengámalkan) bid'áh."
[Haqqu an-Nabi shallallahuálaihi wa sallam karya asy-Syaikh Dr. Ábdullah bin Ábdirrahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 27 & 29]

Maka sekali lagi, perhatikanlah sang penyampai istihsan itu samada beliau benar² seorang álim(yang menolak kebenaran) atau pada haqiqatnya hanyalah al-qushash(tukang cerita) yang melata ataupun juga ruwabidhah. Kerana telah disebutkan di dalam hadits:

حَدَّثَنَا يُونُسُ وَسُرَيْجٌ قَالَا حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ سُرَيْجٌ وَيَنْظُرُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ

Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Suraij mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Saíd bin Úbaid As-Sabaq dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda:
"Sebelum hari qiamat akan datang tahun² yang penuh tipu muslihat, orang yang jujur didustai sedang pendusta dipercaya, orang yang amanah dikhianati sedang pengkhianat diberi amanah, dan Ruwaibidhah akan berbicara." Suraij berkata: "Pada tahun tersebut orang² ruwaibidhah akan melihat."

[HR Ahmad, no.8105]

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Já'far Al-Mada'ini, dia tak lain adalah Muhammad bin Já'far, telah menceritakan kepada kami Ábbad Bin Al-Áwwam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Al-Mukandir dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda, "Sebelum munculnya dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para ruwaibidhah angkat bicara", ada yang bertanya, apa itu ruwaibidhah?, Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda, "Orang fasiq yang ia berbicara tentang persoalan ummah."
[HR Ahmad, no.12820]

و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو شُرَيْحٍ أَنَّهُ سَمِعَ شَرَاحِيلَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُاقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنْ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لَا يُضِلُّونَكُمْ وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya bin Ábdullah bin Harmalah bin Ímran at-Tujibi dia telah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Syuraih bahwa dia mendengar Syarahil bin Yazid berkata, telah mengabarkan kepadaku Muslim bin Yasar bahwa dia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda, "Akan ada di akhir zaman para Dajjal Pendusta membawa hadits² kepada kalian yang mana kalian tidak pernah mendengarnya dan bapa² kalian juga belum pernah mendengarnya. Maka kalian jauhilah dan mereka jauhilah. Mereka tidak mampu menyesatkan kalian dan tidak mampu memfitnah kalian."
[HR Muslim, no.8 pada bab; Larangan untuk meriwayatkan dari orang² lemah dan berhati² dalam menyampaikannya]

Al-Imam Malik rahimahullah menyatakan,
كُلُّ كَلَامٍ فِيْهِ مَقْبُولٌ وَمَرْدُودٌ إِلاَّ كَلَامَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ
"Setiap perkataan bisa diterima dan bisa ditolak, selain perkataan penghuni qubur ini
(yakni, Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam)."

[Siyar A’lami an-Nubala, 8/93]

Hal yang sama diucapkan pula oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah,
"Pendapat seseorang bisa diambil dan ditinggalkan, selain(apa yang dari) Nabi shallallahuálaihi wa sallam
(wajib diterima atau diambil)."

[Masa’il al-Imam Ahmad, no. 1786. Lihat Ithafu al-Úqul bi Syarhi ats-Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri hafizhahullah, hlm. 9]

Hanya ALLAH jua yang Maha Tahu tentang apa jawaban yang pembawa istihsan tersebut. Hujjah yang ditegakkan pada sangkaan atau ikut-ikutan itu lazimnya tidak kan ke mana². Garis panduan cara selamat pun telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam.

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذَاً لَّمِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ílmu kepadamu,
sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang² yang zhalim."

[Al Baqarah(2): 145]

Ábdullah Ibn Mas'úd radhiyallahuánhu berkata:
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَرُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ قُلُوبًا وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا قَوْمٌ اخْتَارَهُمْ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةِ دِينِهِ فَاعْرِفُوا لَهُمْ حَقَّهُمْ وَتَمَسَّكُوا بِهَدْيِهِمْ؛ فَإِنَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ

"Sesiapa di antara kamu mengikuti sunnah(bimbingan), maka ikutilah jejak bimbingan orang yang telah wafat kerana orang yang masih hidup tidak terlepas dari fitnah. Mereka(orang yang telah wafat, pen.) adalah para sahabat Muhammad shallallahuálaihi wa sallam. Mereka adalah orang yang paling baik hatinya, paling dalam ílmunya, serta paling sedikit takallufnya(tidak merasa terbeban dengan syari'át). Mereka adalah kaum yang dipilih oleh ALLAH untuk berdampingan dengan Nabi-NYA dan menegakkan ugama-NYA. Maka kenalilah kelebihan dan jasa² mereka, ikutilah mereka, dan ambillah akhlaq serta ugama mereka kerana sesungguhnya mereka berada di atas landasan hidayah yang lurus."
[Ibnu Ábdil Bar - Jaamí al-Ílm wa Fadhlihi, Ibnu Taimiyyah - Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim - Í'lam al-Muwaqqi'ín]

Ingin diperingatkan kepada saya sendiri terutamanya, bahawa ketergelinciran tak mesti berlaku dalam suatu bentuk yang besar. Bermula dengan sedikit demi sedikit akhirnya barulah semakin jelas jauhnya daripada landasan yang sebenar. Itupun jika ada yang menegur. Dan itupun jika kesedaran dalam berámar má'ruf nahi munkar di kalangan masyarakat kita sudah meningkat maju.

Jesteru itu, kita hargailah ketepatan dan kekukuhan pada soal² áqidah dan berlapang dada mengikut tuntunan sunnah pada soal² íbadah. Dan usahlah diambil kesempatan dengan menyelitkan pendapat dangkal kita ke dalam kesempurnaan ugama ini[9]. Percayalah, bersama atau tanpa kita, ugama ini tetapkan terpelihara tanpa memerlukan sebarang tokok-tombah[10] walaupun secubit. Ingatlah bahawa íbadah itu pada asalnya haram untuk dikerjakan bila tidak ada dalil yang memerintahkannya.[11]. Bersama²lah kita menjauhi sikap melampaui batas[12] yang hanya menuntun kepada kesesatan yang membinasakan[13]. Hidup ini indah dan tidaklah perlu dipersulitkannya dengan menyelisihi As-Sunnah.
Wallahu mustaán

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukilah kami jalan yang lurus."

[Al-Fatihah(1) : 6]

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
"Wahai Rabb kami, Janganlah Engkau sesatkan hati² kami setelah Engkau berikan kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih-sayang dari sisi-MU, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi."

[Ali Ímran(3) : 8]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
"Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, kukuhkanlah hatiku ini diatas agama-MU."

[HR Ibnu Abi Áshim dalam as-Sunnah no. 232 dari Ummu Salamah radhiyallahuánha, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah]


*Lihat Sallus Suyuf wal Asinnah 'Alaa Ahlil Hawa wa Ad'iyaais Sunnah(Hujjah Atas Pengekor Hawa-Nafsu Dan Pengkhianat Sunnah) karya Asy-Syaikh Ábdullah bin Shalfiq Azh-Zhufairi.
*Bacaan lengkap di sini
 
Back
Top
Log in Register