Pembicaraan yang Berlangsung pada Peristiwa Saqifah
Diriwayatkan dari Ibnu Ufair, dari Abu Aun, dari Abdullah bin Abdurrahman Al-Anshari yang menginformasikan bahwa pada saat Rasulullah Saw. wafat, sahabat Anshar menemui Sa’d bin Ubadah. Mereka menginformasikan bahwa Rasulullah Saw. telah wafat. Sa’d lalu berkata pada putranya yang bernama Qais, “Karena sakit, aku tidak bisa bicara keras. Tolong sampaikan apa yang aku katakan, agar mereka semua bisa mendengar apa yang aku katakan.”
Sa’d pun menyampaikan pendapatnya. Anaknya menyimak lalu menyampaikan pendapat Sa’d pada sahabat Anshar yang hadir saat itu, agar sahabat Anshar bisa mendengar apa yang dikatakannya.
Berikut di antara yang dikatakan Sa’ad saat itu:
“Wahai sahabat Anshar! Kalian lebih dulu menerima agama ini. Kalian juga memiliki keistimewaan dalam Islam, yang tidak dimiliki suku manapun di Arab. Rasulullah Saw. tinggal bersama kaumnya selama 13 tahun. Beliau berdakwah dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah dan melepaskan penyembahan terhadap berhala. Namun, hanya sedikit kaumnya yang beriman. Namun, mereka memang tidak mampu mencegah dakwah Rasulullah Saw. Sebelumnya, mereka juga tidak mengetahui ajaran agama Rasulullah Saw. Mereka bahkan tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melindungi diri mereka. Ini terus berlangsung sampai kemudian datang waktunya ketika Allah memberi keistimewaan kepada kalian. Allah juga menganugerahkan kemuliaan pada kalian. Allah juga mengistimewakan kenikmatan pada kalian. Allah juga memberikan rezeki keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalian juga diberi kemurahan hati untuk membela Nabi dan para sahabatnya, juga melindungi agama-Nya, berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Kalian juga sudah berhasil menunjukkan sebagai orang-orang yang berada di garda terdepan dalam menghadapi orang-orang yang menentang agama-Nya.
Kalian juga dikenal sebagai orang-orang yang paling sulit ditaklukkan oleh musuh-musuh kalian, hingga akhirnya para musuh Allah itu tunduk kepada perintah Allah baik secara sadar maupun secara terpaksa. Orang yang berada di tempat jauh pun tunduk hingga akhirnya Allah memberikan tempat tinggal bagi Nabi-Nya di bumi kalian. Melalui pedang kalian, orang-orang Arab takluk. Allah telah memanggil Nabinya keharibaan-Nya dalam keadaan Rasulullah Saw. tenang dan rida kepada. Karenanya, marilah merapatkan barisan dalam menghadapi masalah ini. Kalian adalah orang yang paling berhak atas masalah ini.”
Para sahabat Anshar pun menerima dan setuju dengan penjelasan Sa’d itu. Bahkan, para sahabat Anshar mengangkatnya sebagai juru bicara untuk menyelesaikan masalah itu, karena Sa’d dianggap sebagai figur yang bisa diterima oleh berbagai kalangan. Informasi mengenai hal itu pun akhirnya sampai juga ke telinga Abu Bakar. Sahabat terdekat Nabi ini kaget luar biasa mendengar informasi itu. Bersama Umar, dia pun buru-buru pergi menuju Saqifah Bani Saidah. Di jalan, keduanya bertemu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketiganya lalu pergi bersama-sama. Setibanya di tempat pertemuan, mereka mendapati banyak pembesar sahabat, yang di antaranya Sa’d bin Ubadah.
Umar lalu berinisiatif untuk membuka pembicaraan hari itu. Ia khawatir Abu Bakar tidak sanggup menyampaikan semua yang harus dibicarakan (karena dalam suasana berkabung). Saat Umar sudah mulai nyaman berbicara, Abu Bakar bersedia berbicara. “Pelan-pelan saja. Anda pasti bisa menyampaikan sesuatu,” kata Umar pada Abu Bakar kala itu.
Abu Bakar lalu memberi penjelasan. Para sahabat yang lain menyimak penjelasan Abu Bakar. Ia lalu berkata, “Allah telah mengutus Muhammad Saw. dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Ia mengajak kita untuk memeluk Islam. Allah menjadikan kita bisa menerima ajaran beliau. Sebagai kaum Muhajirin, kita adalah orang-orang yang pertama kali menyatakan diri masuk Islam. Yang lain sebenarnya menjadi pengikut kita dalam agama ini. Kita juga menjadi keluarga Rasulullah Saw. Di samping itu, kita juga menjadi nasab terhormat di kalangan orang Arab. Setiap kabilah pasti mempunyai hubungan darah dengan suku Quraisy. Kalian, kaum Anshar, juga menjadi penolong kami. Kalian menjadi pendamping kami dalam masalah agama. Kalian juga mendampingi Rasulullah Saw.
Kalian menjadi saudara kami terkait Alquran dan kolega kami dalam urusan agama dalam suka dan duka. Setiap kebaikan yang kami punya, kalian pun juga memilikinya. Kalian adalah orang-orang yang paling kami sukai. Kalian adalah orang yang paling mulia bagi kami. Kalian adalah orang yang paling berhak dengan qada Allah dan menerima perintah Allah. Saat Allah memberikan semua ini kepada kalian dan kaum Muhajirin, mereka sebetulnya paling berhak mendapatkan semua itu. Karenanya, kalian jangan iri pada mereka.
Sebelumnya, kalian bahkan lebih memprioritaskan kebutuhan kaum Muhajirin, meskipun kalian sendiri sebetulnya mempunyai kebutuhan sendiri. Sampai sekarang pun, kalian masih lebih memprioritaskan kebutuhan kaum Muhajirin, padahal kalianlah yang paling berhak agar pro-kontra masalah ini tidak berlangsung di sini. Kalian juga yang paling berhak untuk tidak iri kepada teman-teman kalian atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka. Saya sendiri ingin mengajak kalian untuk menunjuk Abu Ubaidah atau Umar.
Keduanya adalah orang yang bisa diterima luas di kalangan kalian. Keduanya juga merupakan orang yang mumpuni.”
Umar dan Abu Ubaidah sendiri lalu berkomentar sebagai berikut: “Tidak ada orang yang lebih tinggi daripada Anda. Anda menjadi pendamping Rasulullah saat berada di goa. Rasulullah Saw. juga memerintahkan Anda menjadi imam salat. Andalah yang paling berhak untuk memegang amanah ini.” Kalangan Anshar juga berkomentar, “Demi Allah, kami tidak iri pada kalian atas kebaikan yang diberikan Allah pada kalian.Alhamdulillah, jika kami memang seperti yang Anda jelaskan. Tidak ada makhluk Allah yang kami cintai melebihi kalian. Tidak ada yang kami sukai melebihi kalian. Kami hanya khawatir bahwa setelah hari ini justru orang yang bukan dari kalangan kami dan kalangan kalian yang memegang tampuk kekuasaan ini.
Jika hari ini kalian mengangkat seseorang dari kalangan kami atau dari kalangan kalian, kami langsung ikut membaiat. Kami bisa menerima itu dengan tangan terbuka. Syaratnya, kalau orang tersebut meninggal, kita memilih pemimpin baru dari kalangan Anshar. Bila pemimpin dari kalangan Anshar ini meninggal, kita memilih pemimpin baru dari kalangan Muhajirin. Ini berlangsung terus selama umat ini masih ada. Menurut kami, itu lebih adil bagi umat Muhammad Saw. Sebagian kami harus mau mengontrol sebagian yang lain. Bila pemimpin Quraisy melakukan penyimpangan, maka pemimpin dari kalangan Anshar yang mengambil alih. Begitu pun sebaliknya.”
Abu Bakar pun lalu berdiri. Setelah menyampaikan pidato pembukaannya, Abu Bakar berkata, “Allah Swt. mengutus Muhammad Saw. sebagai utusan untuk makhluk-Nya. Dia juga diutus sebagai saksi atas umatnya agar beribadah dan bertauhid kepada Allah. Padahal, mereka saat itu menyembah banyak tuhan yang berbeda-beda. Mereka menduga bahwa tuhan-tuhan itu akan menjadi penolong mereka. Padahal, tuhan-tuhan itu hanyalah batu biasa yang sengaja dipahat atau kayu biasa yang sengaja diukir. Jika mau, kalian bisa membaca firman Allah Swt. berikut: ‘Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam. Kamu pasti masuk ke dalamnya,’ (QS Al-Anbiya [21]: 98); ‘Mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah,’’ (QS Yunus [10]: 18); ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya,’ (QS Al-Zumar [39]: 3). Meninggalkan agama nenek moyang merupakan hal yang berat bagi orang Arab.
Allah Swt. memberikan keistimewaan kepada kalangan Muhajirin awal yang beriman kepada Allah dan rela bersabar menghadapi tekanan dari kaumnya, juga penistaan kaumnya. Saat itu semua orang menentang dan memusuhi mereka. Meski jumlahnya sedikit, mereka tidak gentar menghadapi hal buruk yang menimpa mereka dan tekanan bertubi-tubi dari seluruh kaumnya. Merekalah orang-orang pertama yang menyembah Allah di muka bumi ini. Merekalah orang-orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi kekasih Allah. Mereka adalah orang yang paling berhak untuk dipercaya memegang amanah ini. Hanya orang zalimlah yang tidak bisa menerima kenyataan ini. Sebagai orang Anshar, kalian juga tidak mengingkari keistimewaan orang Muhajirin, juga kenikmatan besar yang mereka miliki dalam agama ini. Allah Swt. meridai kalian sebagai orang-orang yang turut serta dalam membantu agama dan utusan-Nya.
Allah juga menjadikan kalian sebagai tempat hijrah Rasul-Nya. Tidak ada orang yang melebihi posisi kalian setelah kalangan Muhajirin awal. Kami adalah pemimpinnya, sementara kalian menjadi menterinya. Kami tidak bertindak zalim atas kalian dalam rembukan ini. Saya berharap masalah ini tidak berlarut-larut.”
Lalu, Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Zaid bin Hiram berdiri. Ia berkata, “Wahai sahabat Anshar! Sekarang kalian harus bergandengan tangan. Orang-orang ini sebetulnya bergantung pada kalian.
[]