BTC USD 84,204.3 Gold USD 4,270.26
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Pengangkatan abu bakar r.a. Sebagai khalifah

eboss

CG Hardcore
gemgem
Messages
85,650
Paid Membership
Joined
Nov 29, 2007
Messages
85,650
Reaction score
1,896
Points
591
Judul : Al-Imamah wa Al-Siyasah
Penulis : Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Al-Dainuri
(w. 276 H.)
Pemberi anotasi : Khalil Al-Manshur
Penerbit : Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, Beirut
Tahun : 2001
​
 
PENGANGKATAN ABU BAKAR R.A. SEBAGAI KHALIFAH
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Maryam, dari Al-Uryani, dari Abu Aun bin Amr bin Taim Al-Anshari, dari Said bin Katsir, dari Ufair bin Abdurrahman yang menginformasikan kisah pengangkatan Abu Bakar r.a. sebagai khalifah. Dia juga menginformasikan ihwal Peristiwa Saqifah, termasuk perdebatan dan pro-kontra yang terjadi saat itu antara sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar. Semua informasi itu saya himpun berdasarkan pesan yang tersembul dari pembicaraan yang berlangsung di antara para sahabat kala itu.

Berikut kisah selengkapnya:

Saat itu Rasulullah Saw. sedang sakit. Sakit inilah yang menghantarkan beliau menghadap Ilahi. Beliau keluar menemui jamaah dengan dipapah Al-Fadhl bin Al-Abbas dan seorang budak yang bernama Tsauban. Setelah itu, beliau kembali dan masuk ke dalam rumah. Beliau lalu berkata pada Tsauban, “Kamu duduk di depan pintu! Jangan kamu biarkan seorang Anshar pun masuk.”
Tak lama berselang, para sahabat berkumpul di depan pintu. Mereka lalu meminta Tsauban untuk mengizinkan mereka bisa menemui Rasulullah Saw. “Ada istri-istri beliau,” jawab Tsauban diplomatis. Sesaat kemudian, Rasulullah Saw. mendengar tangisan mereka. Rasulullah Saw. lalu bertanya, “Siapa mereka?” Ada yang menjawab, “Yang sedang menangis adalah sahabat Anshar.” Rasulullah Saw. lalu berkenan menemui mereka dengan dipapah Ali dan Al-Abbas.

Rasulullah kemudian masuk masjid. Para sahabat pun berkerumun mendekati beliau. Lalu, beliau bersabda, “Setiap nabi sebelumku yang wafat, pasti meninggalkan warisan. Warisanku adalah sahabat Anshar. Merekalah yang menjadi tempatku bersandar selama ini. Sekarang, aku ingin berpesan kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, juga berbuat baik kepada sahabat Anshar. Kalian pasti tahu bahwa mereka itu merupakan bagian dari kalian. Mereka mau berbagi dengan kalian dalam suka dan duka. Mereka mau membantu kalian dalam segala kondisi. Karenanya, kalian harus tahu hak mereka seperti apa pada kalian. Kalian juga harus membalas kebaikan mereka. Kalian juga harus memaafkan kesalahan mereka.”

Kemudian, Rasulullah Saw. masuk kembali ke dalam rumahnya dengan mata diperban dan menahan rasa sakit yang sangat. Saat tiba waktu salat, Bilal menemui beliau untuk mengajak salat. Rasulullah Saw. lalu membuka kedua mata beliau. Beliau berkata pada para istri beliau, “Panggilkan sahabat karibku.” Permintaan itu ditangkap oleh Aisyah. Istri Nabi ini mengetahui bahwa yang dimaksudkan sebagai sahabat karib Rasulullah adalah Abu Bakar.
“Minta Umar untuk menghadap. Abu Bakar itu lelaki yang kurang tegar. Jika dia melihat Rasulullah Saw. dalam keadaan seperti ini, pasti dia tidak akan sanggup. Umar pasti lebih kuat daripada Abu Bakar,” jelas Aisyah.

Aisyah pun mengirim pesan itu kepada Umar. Umar pun datang. Sesampainya di rumah Rasulullah Saw., Umar berucap salam. Rasulullah Saw. pun membuka kedua matanya dan menjawab salam dari Umar. Kemudian, Nabi diam saja. Umar paham bahwa Nabi tidak menghendaki kehandirannya.

Saat Umar sudah keluar dari rumah Rasulullah Saw., beliau lalu menemui istri-istri beliau. “Panggilkan Abu Bakar!” pinta Rasulullah. Aisyah menjawab, “Abu Bakar itu kurang tegar menghadapi situasi seperti ini. Aku akan meminta Umar untuk menjadi imam salat.” Rasulullah agak kecewa dengan penjelasan Aisyah. Beliau lalu bersabda, “Kalian ini persis wanita-wanita pada masa Nabi Yusuf. Sekarang, panggilkan saja Abu Bakar. Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan padaku.” Abu Bakar pun dipanggil.
 
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Imam Salat

Saat Abu Bakar datang menghadap, Rasulullah Saw. berkata padanya, “Kamu pergi bersama Bilal. Kamu bertugas menjadi imam salat.” Abu Bakar pun terus menjadi imam salat sampai hari saat Rasulullah Saw. menghadap Allah. Hari itu adalah hari Senin.
 
Perselisihan di Kalangan Sahabat terkait Lokasi Pemakanan Rasulullah

Dalam hal ini, para sahabat berembuk cukup lama. Ada yang berpendapat bahwa Rasulullah Saw. dikebumikan di tempat salat Rasulullah Saw. Abu Bakar berkeberatan dengan usulan ini. “Kita berlindung kepada Allah dari melakukan tindakan semacam itu. Tindakan seperti itu sama dengan kita menjadikan Nabi sebagai berhala yang kita sembah,” kata Abu Bakar.

Ada lagi yang berpendapat agar Nabi dikebumikan di komplek pemakaman Baqi’, yang menjadi tempat dikebumikannya sahabat Anshar dan Muhajirin. Menurut Abu Bakar, “Rasanya kita berat hati membawa jasad Rasulullah jauh-jauh ke Baqi’.”

Para sahabat lalu bertanya mengenai pendapat Abu Bakar sendiri. Abu Bakar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Setiap jasad nabi itu dikebumikan di tempatnya wafat.’” Para sahabat lalu menanggapi, “Kalau begitu, kami semua mengikuti pendapat Anda itu.”

Al-Abbas bin Abdul Muthallib saat itu menemui Ali k.w. Ia berkata pada Ali, “Nabi Saw. sudah wafat. Tanyakan kepada Abu Bakar, jika memang masalah ini menjadi urusan kita, dia harus menjelaskan semua ini. Namun, jika memang masalah ini menjadi urusan orang lain, dia harus bisa mewasiatkan hal yang baik pada kita.”
 
Upaya Al-Abbas untuk Membait Ali

Saat Rasulullah Saw. wafat, Al-Abbas berkata pada Ali k.w., “Sekarang buka tanganmu. Aku akan membaiatmu.” Al-Abbas lalu berkata, “Paman Rasulullah sedang membaiat keponakan Rasulullah Saw. Ahli Bait akan membaiatmu juga.” Ali menanggapi baiat spontan itu. “Siapa lagi yang menginginkan pembaiatan ini selain kita?” kata Ali.

Al-Abbas sendiri sebelumnya telah menemui Abu Bakar. Ia berkata pada Abu Bakar, “Apakah Rasulullah Saw. berpesan sesuatu kepadamu?” Abu Bakar menjawab, “Tidak.” Al-Abbas juga menemui Umar. Ia juga mengatakan hal yang sama pada Umar. Umar juga menjawab, “Tidak.” Al-Abbas pun berkata pada Ali, “Buka tanganmu. Aku akan membaiatmu. Ahli Bait pun pasti ikut membaiatmu.”
 
Pembicaraan yang Berlangsung pada Peristiwa Saqifah

Diriwayatkan dari Ibnu Ufair, dari Abu Aun, dari Abdullah bin Abdurrahman Al-Anshari yang menginformasikan bahwa pada saat Rasulullah Saw. wafat, sahabat Anshar menemui Sa’d bin Ubadah. Mereka menginformasikan bahwa Rasulullah Saw. telah wafat. Sa’d lalu berkata pada putranya yang bernama Qais, “Karena sakit, aku tidak bisa bicara keras. Tolong sampaikan apa yang aku katakan, agar mereka semua bisa mendengar apa yang aku katakan.”
Sa’d pun menyampaikan pendapatnya. Anaknya menyimak lalu menyampaikan pendapat Sa’d pada sahabat Anshar yang hadir saat itu, agar sahabat Anshar bisa mendengar apa yang dikatakannya.

Berikut di antara yang dikatakan Sa’ad saat itu:
“Wahai sahabat Anshar! Kalian lebih dulu menerima agama ini. Kalian juga memiliki keistimewaan dalam Islam, yang tidak dimiliki suku manapun di Arab. Rasulullah Saw. tinggal bersama kaumnya selama 13 tahun. Beliau berdakwah dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah dan melepaskan penyembahan terhadap berhala. Namun, hanya sedikit kaumnya yang beriman. Namun, mereka memang tidak mampu mencegah dakwah Rasulullah Saw. Sebelumnya, mereka juga tidak mengetahui ajaran agama Rasulullah Saw. Mereka bahkan tidak memiliki kekuatan apa pun untuk melindungi diri mereka. Ini terus berlangsung sampai kemudian datang waktunya ketika Allah memberi keistimewaan kepada kalian. Allah juga menganugerahkan kemuliaan pada kalian. Allah juga mengistimewakan kenikmatan pada kalian. Allah juga memberikan rezeki keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalian juga diberi kemurahan hati untuk membela Nabi dan para sahabatnya, juga melindungi agama-Nya, berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Kalian juga sudah berhasil menunjukkan sebagai orang-orang yang berada di garda terdepan dalam menghadapi orang-orang yang menentang agama-Nya.

Kalian juga dikenal sebagai orang-orang yang paling sulit ditaklukkan oleh musuh-musuh kalian, hingga akhirnya para musuh Allah itu tunduk kepada perintah Allah baik secara sadar maupun secara terpaksa. Orang yang berada di tempat jauh pun tunduk hingga akhirnya Allah memberikan tempat tinggal bagi Nabi-Nya di bumi kalian. Melalui pedang kalian, orang-orang Arab takluk. Allah telah memanggil Nabinya keharibaan-Nya dalam keadaan Rasulullah Saw. tenang dan rida kepada. Karenanya, marilah merapatkan barisan dalam menghadapi masalah ini. Kalian adalah orang yang paling berhak atas masalah ini.”

Para sahabat Anshar pun menerima dan setuju dengan penjelasan Sa’d itu. Bahkan, para sahabat Anshar mengangkatnya sebagai juru bicara untuk menyelesaikan masalah itu, karena Sa’d dianggap sebagai figur yang bisa diterima oleh berbagai kalangan. Informasi mengenai hal itu pun akhirnya sampai juga ke telinga Abu Bakar. Sahabat terdekat Nabi ini kaget luar biasa mendengar informasi itu. Bersama Umar, dia pun buru-buru pergi menuju Saqifah Bani Saidah. Di jalan, keduanya bertemu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Ketiganya lalu pergi bersama-sama. Setibanya di tempat pertemuan, mereka mendapati banyak pembesar sahabat, yang di antaranya Sa’d bin Ubadah.

Umar lalu berinisiatif untuk membuka pembicaraan hari itu. Ia khawatir Abu Bakar tidak sanggup menyampaikan semua yang harus dibicarakan (karena dalam suasana berkabung). Saat Umar sudah mulai nyaman berbicara, Abu Bakar bersedia berbicara. “Pelan-pelan saja. Anda pasti bisa menyampaikan sesuatu,” kata Umar pada Abu Bakar kala itu.

Abu Bakar lalu memberi penjelasan. Para sahabat yang lain menyimak penjelasan Abu Bakar. Ia lalu berkata, “Allah telah mengutus Muhammad Saw. dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Ia mengajak kita untuk memeluk Islam. Allah menjadikan kita bisa menerima ajaran beliau. Sebagai kaum Muhajirin, kita adalah orang-orang yang pertama kali menyatakan diri masuk Islam. Yang lain sebenarnya menjadi pengikut kita dalam agama ini. Kita juga menjadi keluarga Rasulullah Saw. Di samping itu, kita juga menjadi nasab terhormat di kalangan orang Arab. Setiap kabilah pasti mempunyai hubungan darah dengan suku Quraisy. Kalian, kaum Anshar, juga menjadi penolong kami. Kalian menjadi pendamping kami dalam masalah agama. Kalian juga mendampingi Rasulullah Saw.

Kalian menjadi saudara kami terkait Alquran dan kolega kami dalam urusan agama dalam suka dan duka. Setiap kebaikan yang kami punya, kalian pun juga memilikinya. Kalian adalah orang-orang yang paling kami sukai. Kalian adalah orang yang paling mulia bagi kami. Kalian adalah orang yang paling berhak dengan qada Allah dan menerima perintah Allah. Saat Allah memberikan semua ini kepada kalian dan kaum Muhajirin, mereka sebetulnya paling berhak mendapatkan semua itu. Karenanya, kalian jangan iri pada mereka.

Sebelumnya, kalian bahkan lebih memprioritaskan kebutuhan kaum Muhajirin, meskipun kalian sendiri sebetulnya mempunyai kebutuhan sendiri. Sampai sekarang pun, kalian masih lebih memprioritaskan kebutuhan kaum Muhajirin, padahal kalianlah yang paling berhak agar pro-kontra masalah ini tidak berlangsung di sini. Kalian juga yang paling berhak untuk tidak iri kepada teman-teman kalian atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka. Saya sendiri ingin mengajak kalian untuk menunjuk Abu Ubaidah atau Umar.

Keduanya adalah orang yang bisa diterima luas di kalangan kalian. Keduanya juga merupakan orang yang mumpuni.”
Umar dan Abu Ubaidah sendiri lalu berkomentar sebagai berikut: “Tidak ada orang yang lebih tinggi daripada Anda. Anda menjadi pendamping Rasulullah saat berada di goa. Rasulullah Saw. juga memerintahkan Anda menjadi imam salat. Andalah yang paling berhak untuk memegang amanah ini.” Kalangan Anshar juga berkomentar, “Demi Allah, kami tidak iri pada kalian atas kebaikan yang diberikan Allah pada kalian.Alhamdulillah, jika kami memang seperti yang Anda jelaskan. Tidak ada makhluk Allah yang kami cintai melebihi kalian. Tidak ada yang kami sukai melebihi kalian. Kami hanya khawatir bahwa setelah hari ini justru orang yang bukan dari kalangan kami dan kalangan kalian yang memegang tampuk kekuasaan ini.

Jika hari ini kalian mengangkat seseorang dari kalangan kami atau dari kalangan kalian, kami langsung ikut membaiat. Kami bisa menerima itu dengan tangan terbuka. Syaratnya, kalau orang tersebut meninggal, kita memilih pemimpin baru dari kalangan Anshar. Bila pemimpin dari kalangan Anshar ini meninggal, kita memilih pemimpin baru dari kalangan Muhajirin. Ini berlangsung terus selama umat ini masih ada. Menurut kami, itu lebih adil bagi umat Muhammad Saw. Sebagian kami harus mau mengontrol sebagian yang lain. Bila pemimpin Quraisy melakukan penyimpangan, maka pemimpin dari kalangan Anshar yang mengambil alih. Begitu pun sebaliknya.”

Abu Bakar pun lalu berdiri. Setelah menyampaikan pidato pembukaannya, Abu Bakar berkata, “Allah Swt. mengutus Muhammad Saw. sebagai utusan untuk makhluk-Nya. Dia juga diutus sebagai saksi atas umatnya agar beribadah dan bertauhid kepada Allah. Padahal, mereka saat itu menyembah banyak tuhan yang berbeda-beda. Mereka menduga bahwa tuhan-tuhan itu akan menjadi penolong mereka. Padahal, tuhan-tuhan itu hanyalah batu biasa yang sengaja dipahat atau kayu biasa yang sengaja diukir. Jika mau, kalian bisa membaca firman Allah Swt. berikut: ‘Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam. Kamu pasti masuk ke dalamnya,’ (QS Al-Anbiya [21]: 98); ‘Mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah,’’ (QS Yunus [10]: 18); ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya,’ (QS Al-Zumar [39]: 3). Meninggalkan agama nenek moyang merupakan hal yang berat bagi orang Arab.

Allah Swt. memberikan keistimewaan kepada kalangan Muhajirin awal yang beriman kepada Allah dan rela bersabar menghadapi tekanan dari kaumnya, juga penistaan kaumnya. Saat itu semua orang menentang dan memusuhi mereka. Meski jumlahnya sedikit, mereka tidak gentar menghadapi hal buruk yang menimpa mereka dan tekanan bertubi-tubi dari seluruh kaumnya. Merekalah orang-orang pertama yang menyembah Allah di muka bumi ini. Merekalah orang-orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi kekasih Allah. Mereka adalah orang yang paling berhak untuk dipercaya memegang amanah ini. Hanya orang zalimlah yang tidak bisa menerima kenyataan ini. Sebagai orang Anshar, kalian juga tidak mengingkari keistimewaan orang Muhajirin, juga kenikmatan besar yang mereka miliki dalam agama ini. Allah Swt. meridai kalian sebagai orang-orang yang turut serta dalam membantu agama dan utusan-Nya.

Allah juga menjadikan kalian sebagai tempat hijrah Rasul-Nya. Tidak ada orang yang melebihi posisi kalian setelah kalangan Muhajirin awal. Kami adalah pemimpinnya, sementara kalian menjadi menterinya. Kami tidak bertindak zalim atas kalian dalam rembukan ini. Saya berharap masalah ini tidak berlarut-larut.”
Lalu, Al-Hubab bin Al-Mundzir bin Zaid bin Hiram berdiri. Ia berkata, “Wahai sahabat Anshar! Sekarang kalian harus bergandengan tangan. Orang-orang ini sebetulnya bergantung pada kalian.

[]
 
Sikap kalian sangat dinanti. Sikap kalian menjadi penuntu roda politik kita semua. Kalian telah memiliki kemulian, kekayaan, jumlah yang banyak, dan keluhuran budi. Kalian dikenal berhati mulia. Karenanya, tujuan hijrah pun ke bumi kalian. Kalian memiliki apa yang dimiliki oleh kalangan Muhajirin awal. Kalian memiliki rumah dan keimanan sebelum mereka. Demi Allah, penyembahan kepada Allah secara terang-terangan untuk pertama kalinya berada di negeri kalian. Salat pun baru bisa dilakukan secara terbuka di masjid-masjid yang kalian dirikan. Orang Arab pun baru mau masuk Islam setelah kalian berhasil menaklukkan mereka.

Dalam masalah ini, kalian memang mempunyai peran yang sangat besar. Jika yang hadir saat ini tidak bisa menerima hal ini, bagaimana kalau kita menunjuk pemimpin dari kalangan kita dan mereka pun menunjuk pemimpin dari kalangan mereka.”
Umar lalu berdiri. Ia berkata, “Itu tidak mungkin bisa terjadi. Tidak mungkin dua pedang berada di satu sarung pedang yang sama. Demi Allah, orang Arab pasti berkeberatan diperintah oleh kalian, sementara Nabinya bukan berasal dari kalian. Orang Arab akan bisa menerima masalah ini jika kenabian yang memang berasal dari mereka, maka pemimpin setelahnya juga berasal dari mereka. Kita mempunyai argumen yang kuat untuk menghadapi orang yang menentang hal ini. Hanya orang yang mengajak kepada kebatilan, perbuatan dosa, atau kehancuran, yang menentang kami terkait kekuasaan dan warisan Muhammad, sementara kami adalah kekasih dan keluarganya.”

Menanggapi hal ini, Al-Hubab bin Al-Mundzir berdiri dan berkata lebih provokatif, “Wahai kalangan Anshar! Sekarang, kalian harus merapatkan barisan. Jangan dengarkan apa yang dikatakan orang ini (baca: Umar) dan teman-temannya. Mereka hanya ingin membawa bagian kalian atas masalah ini. Jika mereka menolak memenuhi apa yang kalian minta, usir saja mereka dari negeri kalian, lalu serahkan saja masalah ini kepada mereka. Demi Allah, kalian lebih berhak atas masalah ini daripada mereka. Kita sudah bercucuran keringat mengangkat pedang untuk mendapatkan hasil seperti sekarang. Jika kalian mau, kita bisa berpisah dengan mereka. Kalau ada yang tidak sependapat dengan aku soal ini, aku akan potong kupingnya.”

Umar pun menanggapi, “Jika tadi Al-Hubab-lah yang memberi tanggapan atas apa yang aku katakan, maka aku tidak ingin berbicara apa-apa terkait apa yang dikatakannya. Kami berdua memang ada masalah pada saat Nabi Muhammad Saw. masih hidup. Namun, Nabi melarangku. Karenanya, aku bersumpah tidak akan berbicara sepatah kata pun yang bisa melukai perasaannya untuk selama-lamanya.”

Setelah itu, Abu Ubaidah berdiri dan berkata, “Wahai kalangan Anshar! Kalian adalah orang yang pertama kali memberi pertolongan. Sekarang, kalian jangan juga menjadi orang yang pertama kali berubah!”
 
akhir nya aku berjaya menghabiskan membacanya..thanks
 
xde sambungan ke??
 
Back
Top
Log in Register